Senin, 23 Mei 2011

ORDE LAMA, ORDE BARU, DAN ORDE REFORMASI

Hasil survei yang dilakukan Indo Barometer itu amat mencengangkan. Sebanyak 40,9 persen responden berpendapat Orde Baru lebih baik dibandingkan dengan Orde Lama dan Orde Reformasi. Hanya 22,8 persen responden yang menilai kondisi saat ini lebih baik. Sedangkan 22,1 persen menjawab tak tahu. Survei ini diadakan pada 25 April hingga 4 Mei 2011 dengan sampel 1.200 orang di 33 provinsi.
Survei tersebut seolah merekam tingginya kepercayaan publik akan zaman Soeharto. Ini berarti rezim yang dijatuhkan lewat aksi demonstrasi mahasiswa tersebut masih lebih disukai dibanding pemerintahan yang dipilih secara demokratis. Kesimpulan begini amat tidak masuk akal karena bertolak belakang dengan hasil pemilu yang melibatkan mayoritas pemegang hak pilih sebagai “responden”.
Metodologi survei itu pun penuh dengan kelemahan. Bagaimanapun, persepsi tak bisa dibandingkan, apalagi atas tiga orde pemerintahan. Profil responden yang dipilih jelas menunjukkan kelemahan survei ini. Jika ingin membandingkan tiga orde, semestinya responden yang dipilih adalah mereka yang memiliki pengalaman hidup di tiga orde tersebut. Padahal responden survei ini hanya sebagian kecil yang merasakan Orde Lama, bahkan ada yang hanya sebentar merasakan Orde Baru. Bagaimana mungkin menarik kesimpulan dari persepsi orang-orang yang berbeda generasi?
Jelas tak mungkin orang ditanya mengenai Orde Lama padahal ia tak punya pengalaman hidup di zaman Sukarno. Sungguh ajaib jika sang responden tetap dimintai pendapat tentang orde yang secara empiris tak pernah ia alami. Responden tentu hanya akan menebak-nebak atau mengandalkan pengetahuan yang pernah ia baca atau dengar.
Orang juga cenderung mengingat-ingat hal yang baik pada masa lalu di tengah kondisi sekarang yang sulit. Publik yang sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang tak tegas melakukan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi akan mudah menganggap masa lalu lebih indah. Mereka tak memeriksa kembali bahwa krisis yang sama juga terjadi di masa lalu.
Survei itu juga mengabaikan fakta obyektif yang terjadi di tiga orde tersebut. Realitas seperti masalah kebebasan pers, hak asasi manusia, pendidikan, tingkat pengangguran, hingga keberhasilan ekonomi mestilah ikut pula diperbandingkan. Indikator-indikator itu penting dijelaskan sebelum survei mengambil kesimpulan.
Kendati survei itu penuh dengan kejanggalan, bukan berarti tak ada sama sekali kelompok yang menyukai Orde Baru. Tapi pandangan sebagian kecil masyarakat ini akan terkikis dengan sendirinya bila pemerintah yang dipilih secara demokratis mampu memberi manfaat yang semakin besar bagi rakyat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar